Kompromi Pun Ada Batasnya

KOMPAS.com — Dalam menjalin hubungan, tentu Anda dan si dia pernah berbeda pendapat. Untuk menghindari debat berkepanjangan, Anda dan si dia biasanya melakukan kompromi untuk menemukan jalan tengah yang sesuai dengan kepentingan bersama.

Tetapi, tahukah Anda bahwa tak semua hal perlu dikompromikan. Ada hal-hal yang memerlukan ketegasan Anda, terutama bila menghadapi tuntutan dia yang berlebihan. Apa saja yang perlu kompromi dan tidak?

Kebiasaan buruk
Perlu kompromi: Kebiasaan buruknya yang suka lupa waktu, seperti ngaret saat janjian bertemu atau lupa hari jadi dan tanggal ulang tahun kita, masih bisa kok dimaafkan dan dikompromikan. Apalagi, bila si dia memberikan surprise kecil untuk menebus kesalahannya.

Untuk mengingatkannya, tak ada salahnya bila Anda mengutarakan harapan Anda padanya dan mencari solusi bersama. Misalnya, dengan meminta si dia memasang alarm di ponselnya sehingga, meski dia sibuk, dia akan langsung ingat momen penting Anda berdua saat alarmnya berbunyi. Lagi pula, kalau si dia benar-benar sayang pada Anda, percaya deh, ia tak ingin mengecewakan Anda berkali-kali.

Beda keyakinan
Tak perlu kompromi: Kita hidup di tengah perbedaan agama dan budaya yang beragam. Jadi, wajar saja kalau saat ini Anda bertemu seseorang dengan keyakinan berbeda. Selama Anda dan si dia tetap bisa saling menghargai keyakinan masing-masing, hubungan bisa berjalan harmonis, kok.

Tetapi, bila si dia mulai memaksa untuk mengikuti keyakinannya, Anda tentu harus menentukan sikap. Pasalnya, agama adalah keyakinan dari dalam hati yang prinsip dan tak boleh dipaksakan. Kecuali, jika Anda memang ingin pindah keyakinan atas keinginan sendiri.

Investasi bersama
Tak perlu kompromi: Menyenangkan memang bila si dia merelakan barang-barang miliknya menjadi milik Anda juga. Belum lagi bila si dia sudah memikirkan masa depan dan berniat menyiapkan investasi bersama, seperti menyiapkan rekening tabungan atas nama Anda dan dia, serta mengajak mencicil apartemen bersama. Dunia semakin terasa milik berdua, deh.

Tetapi, ada baiknya Anda menghindari segala bentuk investasi bersama sebelum terikat dalam pernikahan. Saat ini rencana tersebut memang terasa begitu romantis, tetapi tak ada yang bisa menjamin kelanggengan hubungan Anda dan dia, bukan? Jangan sampai saat Anda dan si dia memutuskan hubungan, urusan investasi bersama ini justru menjadi bumerang bagi kedua belah pihak. Siapa yang akan melanjutkan cicilan, siapa yang berhak memiliki uang tabungan, dan sebagainya.

Berhubungan dengan mantan
Perlu kompromi: Tak perlu langsung cemburu buta bila si dia masih menjalin hubungan baik dengan mantan pacarnya. Selama hubungan mereka masih wajar dan tak mengganggu hubungan Anda dan si dia, berarti tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bila Anda tak suka dia terlalu sering berkomunikasi dengan sang mantan, cobalah berterus terang padanya. Dalam sebuah hubungan, rasa percaya memang penting. Toh, Anda juga tak bisa memusuhi semua mantan kekasih Anda, kan?

Banyak menuntut
Tak perlu kompromi: Si dia selalu ingin Anda ada di dekatnya dengan alasan tak ingin kehilangan. Tetapi, dampaknya ia melarang Anda berkumpul bersama teman-teman, bahkan meminta Anda berhenti bekerja karena takut Anda dekat dengan salah satu teman pria di kantor. Pasangan yang baik tentu tak akan menghalangi kebebasan Anda dalam bergaul dan meraih kesuksesan. Bila ia tak bisa percaya dan mendukung kemajuan diri Anda, rasanya sudah saatnya mencari pria lain yang lebih tepat.

“Abusive
Tak perlu kompromi: Waspadai kebiasaan si dia yang suka memaki bahkan memukul Anda saat ia sedang emosi. Tak ada alasan yang dapat membenarkan perilaku buruknya.

Jangan terlena dengan penyesalan yang selalu ia tunjukkan setelah perilaku kasarnya pada Anda. Ingat, rasa sayang tak ditunjukkan dengan kekerasan dan tak ada seorang pun yang berhak menyakiti Anda, termasuk si dia yang mengaku mencintai Anda.

Penampilan
Perlu kompromi: Si dia lebih senang tampil kasual dengan t-shirt dan jeans, sedangkan Anda lebih suka melihatnya tampil rapi dengan kemeja. Tak perlu langsung menuntutnya untuk mengganti gaya berpakaian sesuai keinginan Anda. Agar tak terkesan menuntut, cobalah buat kesepakatan berdua, misalnya, saat pergi ke mal untuk nonton, si dia boleh memakai t-shirt kesayangannya. Tapi saat makan malam bersama keluarga Anda, ia harus memakai kemeja rapi. Tenang saja, si dia takkan keberatan kok menuruti keinginan Anda selama bisa membuat Anda senang.

(Majalah Chic/Bestari KD)

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: